Dengan sensor kelembapan dan penjadwalan otomatis, petani Tirtamaya memangkas pemakaian air hingga 30% tanpa menurunkan hasil panen.
Kelompok Tani Ngudi Makmur Desa Tirtamaya mulai menerapkan sistem irigasi pintar (smart irrigation) pada lahan sawah percontohan seluas 3 hektar. Uji coba yang dimulai Mei 2025 ini menunjukkan hasil menggembirakan.
Sistem memanfaatkan sensor kelembapan tanah yang terhubung ke katup air otomatis. Air hanya dialirkan saat tanah benar-benar membutuhkan, sehingga pemborosan akibat penggenangan berlebih dapat dihindari. Petani memantau semuanya lewat aplikasi ponsel.
Hasilnya, pemakaian air irigasi turun hingga 30% dibanding cara konvensional, sementara produktivitas gabah tetap stabil bahkan cenderung naik karena akar tanaman lebih sehat. Efisiensi ini penting saat musim kemarau panjang.
Ketua kelompok tani, Pak Sugeng Riyadi, mengaku awalnya ragu dengan teknologi. "Tapi setelah lihat sendiri hasilnya, air lebih hemat dan panen tetap bagus, sekarang anggota lain ikut mau pasang," ceritanya.
Keberhasilan ini menarik perhatian Dinas Pertanian yang berencana memperluas program ke kelompok tani lain. Desa Tirtamaya membuktikan bahwa teknologi tepat guna dapat menjawab tantangan ketahanan pangan dan krisis air sekaligus.